Ketika 100 Pelaku Usaha di Aceh Akhirnya Berani Menghitung Keuangannya: Workshop Literasi Keuangan bersama Kementerian UMKM dan Tumbu

Senin, 27 April 2026 • 6 min read

Ketika 100 Pelaku Usaha di Aceh Akhirnya Berani Menghitung Keuangannya: Workshop Literasi Keuangan bersama Kementerian UMKM dan Tumbu

Ada yang berbeda dari ruangan di BPSDM Provinsi Aceh pada 23 April 2026. Seratus kursi terisi penuh, dan suasananya terasa hidup—penuh percakapan, tawa kecil, serta raut wajah yang serius namun antusias. Inilah hari di mana para pelaku usaha mikro terdampak bencana berkumpul bukan untuk mengeluh, melainkan untuk belajar—dan akhirnya berani berhadapan dengan angka-angka keuangan mereka sendiri.

Workshop Pengembangan Kapasitas Produksi Usaha Mikro Terdampak Bencana ini diselenggarakan oleh Kementerian UMKM sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem usaha yang inklusif. Tumbu dan ukmindonesia.id hadir sebagai narasumber, membawakan pendekatan yang tidak sekadar teoritis—melainkan langsung menyentuh realita kehidupan finansial sehari-hari peserta.


Ruang yang Beragam, Semangat yang Sama

Salah satu hal yang langsung terasa dari kegiatan di Aceh ini adalah keberagamannya. Peserta bukan hanya perempuan—ada pula laki-laki yang hadir dan turut aktif dalam setiap sesi. Tidak ada anak-anak yang digendong atau duduk di pangkuan ibu; semua hadir sebagai individu yang datang dengan satu niat: belajar mengelola keuangan dengan lebih baik.

Profil peserta mencerminkan sasaran program yang tepat sasaran—mereka termasuk dalam desil 1–4 dan sebagian besar merupakan penerima Program Keluarga Harapan (PKH). Dan 70% dari mereka datang tepat waktu. Sebuah sinyal kecil yang berbicara banyak: ini bukan sekadar kewajiban hadir, ini pilihan yang disengaja.


Belajar Mengelola, Bukan Sekadar Mendengar

Sesi utama dibawakan oleh Kak Imam Syafii—CEO Satoeasa sekaligus perwakilan resmi Tumbu dan UKMIndonesia.id—dengan materi bertajuk "Cakap Kelola Keuangan Rumah Tangga untuk Kesejahteraan Keluarga". Pendekatan yang digunakan bukan ceramah satu arah. Interaksi terjadi di setiap sesi—pertanyaan, diskusi kecil, dan momen jujur yang muncul secara alami.

Kak Gemma hadir sebagai co-narasumber yang memandu peserta mengisi kertas kerja secara langsung: menuliskan cita-cita pribadi, mengisi checklist identifikasi jenis motivasi, hingga memetakan arus keuangan rumah tangga bulanan mereka secara nyata. Proses sederhana ini ternyata membuka sesuatu yang selama ini tersimpan rapi—atau lebih tepatnya, tidak pernah sempat dihitung.

Kegiatan berlangsung dari pukul 09.00 hingga 16.00, namun tidak terasa melelahkan. Justru sebaliknya—waktu terasa cepat berlalu karena suasana yang riang dan penuh keterlibatan.


Pening dan Syok. Itulah Awal dari Segalanya

Jika ada satu kata yang paling sering terdengar setelah peserta selesai mengisi worksheet, itu adalah: pening. Dan syok.

Bukan karena materi yang sulit—tapi karena kenyataan yang tiba-tiba menjadi sangat nyata di atas kertas: pengeluaran ternyata lebih besar dari penghasilan.

Padahal, idealnya pengeluaran rumah tangga sebaiknya tidak lebih dari 50% dari total penghasilan keluarga. Namun bagi banyak peserta, angka yang muncul di worksheet mereka jauh dari patokan itu—dan mereka baru menyadarinya hari ini.

Kejujuran kolektif seperti ini bukan tanda kegagalan. Justru sebaliknya—ini adalah titik awal yang paling jujur untuk berubah. Karena tidak ada perencanaan yang bisa dimulai dari angka yang tidak diketahui.


Keinginan untuk Berbagi

Di antara banyak momen yang terjadi sepanjang hari, ada satu yang meninggalkan kesan tersendiri.

Seorang peserta bernama Mardhiah mengangkat tangan—bukan untuk bertanya, tapi untuk menyampaikan sesuatu. Ia merasa bahwa worksheet yang baru saja ia isi ini terlalu penting untuk disimpan sendiri. Ia ingin membagikannya kepada ibu-ibu di kampung sekitarnya, agar mereka pun bisa merasakan apa yang ia rasakan hari itu: sadar, terbuka, dan tergerak untuk mencatat.

Tulisan tangannya di lembar kerja itu bicara sendiri:

"Ternyata selama ini kita ga ada buat pembukuan keuangan rumah tangga. Padahal pencatatan keuangan itu sangat penting, agar kita bisa tau berapa penghasilan dan berapa pengeluaran kita... Saya minta izin untuk men-share keuangan keluarga dan teman-teman serta keluarga lainnya. Terima kasih."

Dalam satu paragraf tulisan tangan itu, ada kesadaran, ada keberanian, dan ada keinginan untuk menularkan kebaikan. Itulah yang terjadi ketika belajar menyentuh sesuatu yang sesungguhnya.


Setelah Workshop, Perjalanan Berlanjut

Kegiatan ini bukan titik akhir. Peserta terpilih akan mendapatkan pendampingan lanjutan dari pihak Kementerian UMKM, dan seluruh peserta telah tergabung dalam satu grup WhatsApp bersama—wadah sederhana yang memastikan semangat yang muncul di ruangan itu tidak menguap begitu saja setelah pulang ke rumah.

Bagi Tumbu, kegiatan seperti ini adalah pengingat bahwa pemberdayaan UMKM yang bermakna bukan hanya soal ilmu yang disampaikan di depan ruangan. Ia tumbuh dari momen-momen kecil: saat seseorang akhirnya berani menjumlahkan pengeluarannya, saat ada yang merasa "syok" tapi tetap memilih untuk melangkah, saat seorang Mardhiah memutuskan bahwa kesadaran ini terlalu berharga untuk dinikmati sendirian.

Dari Aceh, kami pulang dengan keyakinan yang makin kuat: bahwa ketika ruang belajar dibuat aman dan jujur, orang-orang akan datang—dan mereka akan tumbuh.

Dalam paket layanan Tumbu menawarkan paket pelatihan kewirausahaan terpadu (One-Day Full Package) yang mencakup:

  • Mindset & Motivation Building
  • Literasi Keuangan Dasar untuk Usaha Mikro
  • Digital Marketing Dasar
  • Business Planning Sederhana

Pelatihan dirancang agar mudah dipahami dan langsung dapat diimplementasikan—baik untuk usaha yang baru merintis maupun yang siap naik kelas.

Untuk informasi atau kerja sama pelatihan:

WhatsApp: bit.ly/chatbotjagowan  | Email: info@tumbu.co.id

Salam Kolaborasi!

#YukKitaTumbuh #TahuDanMampuBarengTumbu

Tag:

Literasi Keuangan Pendampingan UMKM Workshop UMKM